Friday, 14 April 2017

Anak Putus Sekolah

Permasalahan anak putus sekolah tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. UNESCO mencatat bahwa sepanjang tahun  2013 terdapat 124,1 juta anak putus sekolah di dunia, baik di tingkat sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama.  Putus sekolah yang parah terjadi di kawasan perang, seperti Siria yang pada tahun 2000 tercatat sebagai negara dengan level universal untuk sekolah dasar (artinya di atas 85% anak pada usia sekolah dasar telah bersekolah), namun sejak terjadinya perang maka pada tahun 2012 terdapat 0,3 anak sekolah dasar putus sekolah dan di akhir 2013 meningkat menjadi 1,8 juta.

Angka putus sekolah di Indonesia menurut data survey UNICEF masih cukup besar. Berdasarkan data survey tahun 2011 adalah 3,79 juta anak. Untuk kawasan asia tenggara angka putus sekolah ini adalah yang terbesar (hal ini berkorelasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan). 

Penyebab utama problem putus sekolah di Indonesia adalah ekonomi. Walaupun sekolah dasar dan menengah pertama di Indonesia telah gratis, namun orang tua masih harus mengeluarkan biaya seperti uang transport, seragam, kebutuhan baca tulis dan uang saku untuk anak. Apalagi pada pada usia-usia tersebut seringkali anak-anak telah membantu orang tua untuk bekerja. Jika mereka sekolah maka yang seharusnya memberi tambahan penghasilan untuk keluarga tapi justru menambah pengeluaran.

Hasil gambar untuk jalan ke sekolah sulit
(Sumber gambar: citizen6.liputan6.com)

Selain faktor ekonomi, beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyebab putus sekolah adalah kondisi geografi dan sosial budaya. Banyak kawasan di Indonesia yang masih sangat miskin prasarana sehingga anak-anak mengalami kesulitan untuk menjangkau sekolah. Untuk itu mengukur kesuksesan pendidikan di daerah yang telah maju (di kota-kota besar atau daerah dengan sarana yang bagus) tidaklah pantas jika disamakan dengan daerah yang akses pendidikannya masih sangat minim.


Referensi:

Utomo, Ariane, Dkk. 2014. What Happen after You Drop Out? Transition to Adulthood among Early School-leavers in Urban Indonesia. dalam Demographic Reasearch Vol. 30. Article 41. Page 1189-1218.

UIS. 2015. A Growing Number of Children and Adolescents Are Out of School as Ais Fails to Meet The Mark

UNICEF & UIS. 2011. Global Initiative on Out of School Children

Friday, 10 March 2017

Belajar dari Pendidikan Finlandia

Siapa praktisi pendidikan saat ini yang tidak mengenal Finlandia? Sebuah negara kecil pecahan Uni Soviet yang mencuri perhatian seluruh dunia, termasuk negara-negara besar dengan segudang teori pendidikan. Di awal tahun 2000 negeri ini menjadi contoh bagaimana kualitas pendidikan dapat dibangun secara sistemik melalui keseriusan dan kolektivitas seluruh elemen negara. Bukan hanya departemen pendidikan.

Pembangunan bukan sebuah proses instan yang dapat diwujudkan hanya dalam lima atau sepuluh tahun. Seorang presiden dalam periode kepemimpinannya masih sulit untuk membuat keajaiban pendidikan. Karena itu salah satu yang dapat kita pelajari dari kesuksesan Finlandia adalah keuletan dan komitmen utuh mereka untuk terus menjalankan program perbaikan sekolah di negeri tersebut selama 30 tahun.

(Sumber: https://www.goodfreephotos.com/albums/people/some-students-standing-on-as-street-corner.jpg)

Beberapa indikator yang menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Finlandia dapat menjadi model sistem pendidikan unggul antara lain:
  • Gap (kesenjangan) antara sekolah unggul dengan sekolah tidak unggul kecil, demikian pula gap antara siswa berkemampuan tinggi dan kemampuan bawah. Pemerataan kemampuan sekolah ataupun siswa dapat benar-benar merata.
  • Profesi guru merupakan profesi nomor satu yang menjadi tujuan generasi muda Finlandia karena penghargaan yang tinggi untuk profesi ini. Jurusan PGSD juga menjadi jurusan yang paling sulit untuk dimasuki. Hal ini menjadi sebuah sistem seleksi alami untuk memperoleh guru-guru perkualitas.
  • Para guru Finlandia rata-rata adalah para master (jenjang S2) yang telah terbiasa melakukan penelitian  dan benar-benar menguasai bidangnya.
  • Nilai pencapaian Finlandia pada asesmen internasional seperti PISA, TIMMS atau PIRLS selalu berada di level-level teratas dunia.
  • Perkembangan ekonomi kreatif Finlandia juga maju seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan mereka.
Kualitas pendidikan diwujudkan melalui proses panjang dan serius. Juga dibutuhkan komitmen seluruh elemen bangsa. Telah banyak negara lain yang melakukan studi banding ke Finlandia untuk mempelajari bagaimana mereka melakukan revolusi pendidikan. Dalam tulisan ini akan dipaparkan uraian seorang praktisi dan peneliti asal Finlandia, Pasi Sahlberg, mengenai faktor utama keberhasilan pendidikan di Findia. tiga faktor utama kesuksesan tersebut menurutnya adalah:
  1. Visi yang benar-benar kuat mengenai bagaimana seharusnya pendidikan berkualitas. Visi mengenai pembangunan pendidikan ini bukan hanya milik departemen pendidikan melainkan sebuah mimpi bersama seluruh bangsa yang terus akan diwujudkan, tidak peduli siapapun pemimpin yang sedang berkuasa. Visi ini berada di atas kekuatan politik dan bahkan pengendalikan politik.
  2. Cara belajar dan menerima masukan dari luar. Berbagai teori dan hasil-hasil penelitian mengenai pendidikan juga dipelajari dan diterapkan oleh Finlandia, namun dalam porsi yang tidak menghilangkan karakter utama pendidikan mereka. Secara sadar mereka melakukan seleksi tentang bagaimana masukan dari luar yang baik untuk diterapkan.
  3. Memberi penghargaan bagi setiap guru dan pemimpin sekolah. Pengahargaan ini tidak hanyaberupa penghargaan finansial ataupun prestis melainkan juga ruang kreativititas yang luas bagi setiap guru dan pemimpin sekolah untuk membangun kurikulum di sekolah mereka. Negara memberi mereka kepercayaan untuk melakukan hal tersebut. Seleksi untuk menjadi guru adalah seleksi kerja yang paling ketat sehingga benar-benar guru menjadi figur yang layak untuk memperoleh kepercayaan mendidik dan berkreasi di sekolah mereka.

Referensi:
Sahlberg, Pasi. (2014). Finnish Lessons; Mengajar Lebih Sedikit, Belajar Lebih Banyak ala Finlandia. Penerjemah: Ahmad Muchlish. Bandung: Kaifa Learning

Friday, 16 December 2016

Inkulturasi dalam Pembelajaran IPA

IPA adalah bidang ilmu yang mengkaji alam secara sistematis melalui metode-metode ilmiah, bertujuan memberikan pemahaman kepada manusia mengenai bagaimana alam eksis dan bekerja (termasuk dirinya sendiri sebagai bagian dari alam). Melalui pemahaman tersebut manusia dapat melakukan prediksi dan manipulasi sehingga bermanfaat bagi kehidupan mereka. Mengajarkan IPA di sekolah berkaitan erat dengan bagaimana cara kerja dan cara berpikir para saintis. Tanpa hal tersebut, maka yang didapatkan siswa bukan IPA secara utuh sebagai ilmu melainkan hanya pengetahuan saja.

IPA dan juga ilmu-ilmu yang lain selama ini dianggap sebagai sesuatu yang dapat dipelajari dimanapun dengan cara yang sama dan menghasilkan cara berpikir, bersikap dan dampak yang juga sama dalam kehidupan manusia. Sebenarnya tidaklah demikian, berdasarkan kajian para ahli, IPA merupakan produk kultur (budaya) masyarakat tertentu sehingga memiliki karakter atau nilai-nilai budaya tersebut. Dengan demikian jika diajarkan secara langsung tanpa proses penyesuaian maka akan memunculkan dampak-dampak negatif.

Cobern dan Aikenhead (1997) menjelaskan bahwa IPA dalam perjalanan sejarahnya sangat dominan Barat sehingga dapat dianggap sebagai subkultur dari kultur barat. Kita di kawasan dunia timur memiliki kultur yang berbeda. Jika IPA diajarkan secara langsung tanpa adaptasi dengan kultur masyarakat setempat akan terjadi proses asimilasi yaitu pebentukan kultur baru pada diri siswa. Secara sederhana pikiran dan sikap mereka menjadi cenderung terbaratkan dan kurang menghargai kultur mereka sendiri. Selain itu siswa juga akan lebih mengenal fenomena alam negara-negara barat daripada fenomena alam sendiri. Sebagai contoh, sering kita melihat bagaimana buku teks dalam IPA menyajikan contoh-contoh ekosistem atau keanekaragaman makhluk hidup yang dihasilkan dari penelitian di Eropa sehingga siswa mengenal betul bagaimana hidup dari beruang kutub, ikan salmon atau pinguin. Tapi mereka tidak mengenali bagaimana kehidupan mahkluk-makhluk hidup di daerahnya sendiri.

Belajar IPA dengan cara seperti itu tentu tidak akan menghasilkan perkembangan bagi masyarakat dan lingkungan dimana siswa berada. Siswa akan terasingkan dari masyarakatnya sendiri. Itulah tampaknya yang menjadi salah satu penyebab mengapa ilmu pengetahuan kurang dapat mendongkrak kualitas hidup bermasyarakat kita.

Cobern dan Aikenhead (1997) menyarankan agar pembelajaran IPA seharusnya diberikan melalui penyesuaian dengan kultur masyarakat dimana siswa berada. Penyesuaian tersebut dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan baik melalui penyesuaian materi, membandingkan konsep asal dengan konteks kultur siswa, memberi peluang kepada siswa untuk memikirkan atau menghaji fenomena alam dari perspektif yang berbeda, mengikutsertakan nilai-nilai kultural yang dimiliki siswa ke dalam pembelajaran dan lain sebagainya. Proses seperti ini disebut dengan proses inkulturasi, dimana kultur asal dari IPA tidak akan menghilangkan kultur yang dimiliki oleh para siswa, tetapi terjadi proses penyesuaian. 


Hal ini masih jarang dilakukan oleh guru-guru ataupun para pengembang pendidikan IPA di negara kita. Karena itu menjadi tantangan bagi para praktisi pendidikan IPA untuk melakukannya.  


Referensi:
Cobern, W.W., Aikenhead, G., & Cobern, B. (1997). Cultural Aspects of Learning Science. In Scientific Literacy and Cultural Studies Project. Paper 13.